Mengupas Mitos Jurang Pendanaan Seri B bagi Startup Indonesia

Apakah gelombang startup asal Indonesia selanjutnya akan mengalami kesulitan mendapat pendanaan seri B?

Ada rumor mengenai hal tersebut belakangan ini. Kondisi ini juga diduga menjadi alasan di balik pengembangan program yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia bernama NextICorn.

Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh perusahaan modal ventura (VC) Monk Hill menyebutkan terdapat celah pada putaran pendanaan lanjutan di beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. YC Ng, seorang mitra dari kelompok usaha kolongmerat Indonesia, Sinar Mas, juga menyebutkan pendapatnya tentang hal ini.

Menurut para investor, ada satu hal yang sudah pasti: masih banyak dana tersedia untuk diberikan pada startup yang tepat.

Jakarta Ilustrasi

Sumber foto: amadeustx

Wilson Cuaca, Managing Partner di East Ventures, mengatakan ia tidak pernah berpikir bahwa ada kekosongan pendanaan menuju seri B, meskipun ia telah “bergabung dengan ekosistem startup sejak hari-hari awal kehadiran startup di Indonesia.”

“Sejarah terus berulang,” ujarnya. “Pada masa awal berdirinya ekosistem digital di Indonesia, semua orang mengatakan sedang kekurangan pendanaan tahap awal perusahaan.”

Menurut Cuaca, tujuh puluh persen perusahaan aktif yang masuk dalam portofolio East Ventures—termasuk unicorn Traveloka dan Tokopedia—berhasil meraih market-fit dan bisa mendapat pendanaan seri A dan lanjutannya. Sisanya, sebesar 30 persen, adalah investasi baru-baru ini.

Jefrey Joe, Managing Partner Alpha JWC Ventures yang berbasis di Jakarta, juga tidak melihat adanya jurang. “Perusahaan kami telah berhasil mengadakan putaran pendanaan seri B sepanjang tahun.”

Data Tech in Asia juga mengamini pernyataan tersebut. Kami telah mencatat sembilan putaran pendanaan seri B di Indonesia sepanjang tahun ini—terjadi peningkatan sekitar lima puluh persen dibandingkan dengan tahun 2017, sekaligus menjadi angka tertinggi dalam tiga tahun belakangan.

Namun apa yang kami lihat adalah bahwa investasi tahap awal dan seri A masing-masing mengalami penurunan sebesar 41 dan 25 persen. Jadi, meski semakin sedikit startup tahap awal yang mendapat pendanaan, tapi mereka mempunyai kualitas yang lebih tinggi bila ditinjau dari besarnya persentase perusahaan yang bisa meraih pendanaan seri B.

Mari kita lihat negara tetangga Singapura sebagai perbandingan. Baik Singapura maupun Indonesia umumnya memiliki saluran perkembangan startup serupa.

Sekitar 11 persen investasi di kedua negara ditujukan untuk putaran pendanaan seri B. Sementara investasi tahap awal berada di level rendah, di bawah 60 persen, dan seri A berada berada pada 20 persen.

“Meski semakin sedikit startup pada tahap awal yang mendapat pendanaan, tapi mereka terbukti mempunyai kualitas yang lebih tinggi.”

Walau demikian, ketika kamu melihat angka kasarnya, Singapura terus memimpin tahun ini dengan 14 investasi seri B dibandingkan dengan Indonesia yang hanya berhasil meraih 9 investasi. Mereka juga berhasil unggul dari Indonesia tiap tahunnya selama dua tahun terakhir.

Angka tersebut tetap terlihat baik bagi Indonesia. Joe mengklaim bahwa angka investasi seri B di tanah air sebenarnya lebih besar dari itu—setidaknya menyentuh angka 15. Amit Anand, Managing Partner Jungle Ventures yang berbasis di Singapura, setuju dengan penilaian ini. (Tech in Asia hanya melacak pendanaan dari pemberitaan di media, inilah mengapa angka yang kami sebutkan lebih rendah dari mereka.)

“Kami pikir terdapat kualitas kerjasama yang sehat di Indonesia, Singapura dan keseluruhan wilayah bagi pendanaan seri B,” ujar Anand.

Mari kita asumsikan terdapat 15 pendanaan seri B di Indonesia. Tidakkah angka tersebut termasuk rendah bagi sebuah negara yang telah melahirkan empat unicorn? Masalahnya di sini, sepertinya ada di startup itu sendiri.

“Saya ragu kalau tak ada uang yang tersedia untuk lanjutan pendanaan setelah seri A,” ujar Gary Khoeng, Executive Director dari Vertex Ventures. “Terdapat celah-celah untuk mendapatkan uang. Namun menurut saya, hanya sedikit perusahaan berkualitas yang mampu mengumpulkan pendanaan pasca seri A.”

Bagi Cuaca dari East Ventures, uang untuk pendanaan seri B selalu ada. “Kami yakin kalau uang itu selalu tersedia untuk dikerahkan,” ujarnya. “Yang menghilang adalah aspek perkembangan startup di Indonesia.”

Kantor Traveloka di Jakarta

Kantor Traveloka di Jakarta. Sumber foto: Traveloka

Faktor unicorn

Bagi Joe, alasan utama yang menjangkiti startup Indonesia adalah traksi yang tercipta ternyata lebih rendah dari harapan semula. Namun bagi Cuaca dan Khoeng, mereka yakin tingkat terjadinya kesepakatan antara investor dan startup akan menyesuaikan kelak.

“Orang-orang mulai berinvestasi di Indonesia tiga tahun lalu,” ujar Khoeng. “Kamu harus menunggu hingga seluruh industri mencapai tahap dewasa.”

Keempat unicorn asal Indonesia didirikan pada rentang tahun 2009 hingga 2012, yang terasa seperti keabadian di dunia startup. Namun pertumbuhan eksponensial mereka mungkin merupakan suatu pengecualian.

“Fakta bahwa kita mempunyai empat unicorn meskipun sebagian besar investasi terjadi di tahap awal adalah suatu kebetulan,” ungkap Khoeng.

“Tidak ada satu pun dari mereka yang berada di tahap seri A atau seri B dalam jangka waktu lama. Mereka melewatkan tahap-tahap itu dan langsung menjadi unicorn.”

Di balik kemunculan gelombang unicorn, menurut Khoeng, terdapat sejumlah startup yang diibaratkan seperti zombi. Para startup ini punya rencana yang menarik pada tahun 2015 lalu karena mereka berupaya melakukan digitalisasi pada industri tradisional, tapi sayangnya pasar belum siap. Perkembangan mereka menjadi stagnan, tidak mati tapi juga tidak semakin dekat dengan ke putaran pendanaan lanjutan.

“Mereka yang berada di industri kaku adalah pihak-pihak yang menderita,” ujarnya. “Pendirinya mungkin saja tangguh, tapi pasar yang diincar tidak bekerja dengan baik. Lalu apa yang bisa kamu lakukan?”

Bagi perusahaan-perusahaan seperti itu, karena mereka tidak bisa menggalang investasi lanjutan, cara terbaik agar bisa exit—dibandingkan dengan menutup bisnis atau melakukan pivot—adalah berupaya untuk diakuisisi.

“Saya berani bertaruh bahwa ada lebih banyak tindakan merger dan akuisisi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir bila dibandingkan pada tahun 2014 dan 2015,” ujar Khoeng.

Tapi startup makin canggih. Khoeng percaya bahwa sederet pendanaan seri B yang terjadi di Indonesia melibatkan dana yang tak sedikit. Hal ini merupakan pertanda bahwa industri startup makin matang.

“Bukan berarti nantinya akan ada lebih banyak kesepakatan, tapi akan ada semakin banyak perusahaan yang melewati tahap ini,” ujarnya. “Waktu yang akan berbicara. Kamu akan melihat fenomena ini dalam satu atau dua tahun ke depan.”

Cuaca setuju kalau pasar menjadi lebih efisien, yang kemudian menjadi alasan mengapa East Ventures menyiapkan EV Growth, pendanaan baru yang menargetkan startup yang sudah cukup besar.

“Setiap pasar mempunyai waktu nya masing-masing, dan kamu hanya butuh memahami ke mana pasar akan berjalan,” ujar Cuaca. “Bukan berarti kamu harus membandingkan perkembangan ekosistem startup di Indonesia dengan Cina dan Amerika Serikat.”

Kredivo

Kredivo adalah salah satu perusahaan startup yang berhasil meraih pendanaan seri B tahun ini. / Sumber foto: FinAccel

Gelombang selanjutnya

Jadi sektor apa yang akan memimpin gelombang startup di Indonesia selanjutnya? Jika melihat pada data, sektor fintech dan e-commerce akan terus mendominasi.

Pada tiga tahun belakangan, 50 dari 197 investasi diberikan kepada startup fintech. Ini berarti hampir setengahnya. Mereka masing-masing berhasil mendapatkan:

  • 15 persen untuk pendanaan tahap awal,
  • 43 persen untuk pendanaan seri A, dan
  • 36 persen untuk pendanaan seri B.

Lima dari delapan pendanaan seri B untuk startup fintech terjadi pada tahun 2018, termasuk startup software POS Moka yang mendapat pendanaan dari Sequoia dan didukung juga oleh Softbank, “kartu kredit digital” startup Kredivo, dan aplikasi pajak online OnlinePajak.

Diikuti dengan sektor e-commerce dengan jumlah 29 investasi secara keseluruhan. Tiga dari investasi seri B tahun ini diberikan pada sektor e-commerce: marketplace B2B Ralali dan dua startup furnitur e-commerce, Dekoruma dan Fabelio.

Startup media berada pada posisi ketiga dengan total 16 investasi dari tiga tahap, meskipun hanya empat yang terlaksana tahun ini: putaran pendanaan seri A untuk lulusan dari program Y Combinator Nusantara Technology, grup media yang menyediakan konten bagi para pemuda Indonesia, dan tiga investasi pada tahap awal, termasuk Narasi TV yang didukung oleh GO-JEK.

Bagi Joe, sektor fintech masih tetap mempunyai potensi besar di Indonesia, beriiringan dengan teknologi konsumer. Namun, dia tidak percaya dengan “deep tech“—perusahaan dengan proses pengembangan dan riset yang panjang—untuk saat ini. “Ada banyak masalah mendasar yang kita hadapi di Indonesia yang butuh untuk kita selesaikan segera,” ujarnya.

Di Vertex, Khoeng berkata, mereka tetap mendukung startup yang melayani keunggulan kompetitif terbesar Indonesia—populasi masyarakatnya, baik dari segi konsumen maupun perusahaan kecil dan menengah. Ini cenderung menjadi keuntungan bagi sektor e-commerce, logistik, dan fintech.

Seiring peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, ia percaya bahwa tren fintech akan bergerak dari peer to peer lending (P2P) menjadi platform investasi ekuitas online. Setelah itu, ia percaya para startup harus mulai memasuki sektor pendidikan dan kesehatan, di mana masih banyak kesempatan untuk melakukan disrupsi.

“Berapa lama hal ini akan terjadi? Itu adalah pertanyaan penting yang harus dijawab,” ujarnya.

Di sisi lain, East Ventures, berada pada posisi yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan.

“Selama Indonesia masih punya banyak permasalahaan, kami masih punya banyak kesempatan,” ungkap Cuaca. Menurutnya, saat ini merupakan momentum bagi sektor transportasi online, pembayaran, marketplace, dan travel. Namun, kategori lain membutuhkan lebih banyak waktu.

“Untuk itu, beberapa investor lebih suka menunggu berdasarkan kondisi pasar,” tambahnya. “Kami berpikir sebaliknya. Ketika suatu kesempatan terlihat sangat jelas, itu berarti kamu sudah terlambat.”

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

This post Mengupas Mitos Jurang Pendanaan Seri B bagi Startup Indonesia appeared first on Tech in Asia.

The post Mengupas Mitos Jurang Pendanaan Seri B bagi Startup Indonesia appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi


Source: entrepreneur