Perkembangan Industri Teknologi Asia Tenggara Kian Mengarah ke Cina

Di Tech in Asia, kami terobsesi dengan peringkat di App Store, terutama aplikasi yang fokus dengan kawasan Asia Tenggara. Selama beberapa tahun terakhir, kami melihat kemunculan suatu pola: pasar aplikasi mobile makin didominasi oleh aplikasi buatan dibuat di Cina.

Kami berada di garis depan dalam meliput tren ini. Aplikasi livestream BIGO muncul pada akhir tahun 2016 sempat terkenal dengan konten tidak senonoh, sebelum akhirnya dibersihkan. Mereka adalah anak perusahaan dari YY asal Cina dan tercatat sebagai perusahaan publik yang menjalankan aplikasi video-streaming dengan pendapatan terbesar di negeri tirai bambu.

Mendapat dukungan pendanaan dan keuntungan keahlian dari YY, BIGO mengungguli para kompetitor mereka, seperti BeLive dan M17, yang batal melangsungkan penawaran saham kepada publik.

Bigo

Setahun kemudian, aplikasi dari Cina lainnya mulai mendapatkan sorotan. TikTok, sebuah aplikasi karaoke yang memungkinkan pengguna merekam video dengan latar belakang musik, mulai menarik perhatian pengguna Asia Tenggara. Bytedance, perusahaan yang berada di balik TikTok, juga merupakan pengembang aplikasi Toutiao, agregator berita populer di Cina.

Mendominasi peringkat di App Store

Tren ini terlihat semakin meningkat. Kami meliput Hago, aplikasi game sosial yang mulai populer di Indonesia dan Vietnam, belum lama ini. Hago menawarkan sebuah keunikan: bayangkan aplikasi ini seperti mini-WeChat tempat para orang asing menjadi teman mengobrol dan bermain game bersama.

Tebak siapa di balik aplikasi ini? Neotask, sebuah perusahaan yang dimiliki oleh YY.

Hago

Tak lama kemudian, kami juga menemukan Tantan, sebuah aplikasi kencan yang diciptakan oleh startup Cina. Mereka masuk dalam daftar sepuluh aplikasi teratas di Indonesia, Filipina, Singapura, Taiwan, dan Nepal. Kemunculannya sedikit membingungkan—berbagai fiturnya terlihat tidak terlalu berbeda dari Tinder.

Ini bukan hanya mengenai para perusahaan yang sudah cukup besar di Cina melakukan ekspansi ke negara-negara lain. Warga negara Cina juga mengekspor ide dari negara mereka ke negara lain.

Misalnya saja Akulaku. Berdiri pada tahun 2016, layanan ini—memungkinkan para pengguna yang tidak punya kartu kredit membeli barang secara online dan membayar metode cicilan—mulai beroperasi di Indonesia dan Filipina sejak 2018.

Didirikan oleh warga Cina Lin Weibo, Akulaku telah mengumpulkan pendanaan sekitar US$290 juta (Rp4 triliun) dari Sequoia, Shunwei Capital, IDG Capital, dan para investor terkenal dari Cina dan internasional.

E-commerce pinjaman mikro telah hadir di Cina sejak awal 2014, ketika startup seperti Lexin memelopori konsep ini. Lexin didukung oleh raksasa e-tailing JD dan terdaftar di Nasdaq pada akhir 2017.

Sebelum kita melanjutkan, saya ingin menegaskan sesuatu: meski peringkat aplikasi dalam App Store adalah suatu pertanda dari popularitas, ada banyak hal yang tak dapat dijelaskan dari data ini.

Kita tidak tahu berapa banyak biaya yang sudah dihabiskan agar suatu aplikasi bertengger di peringkat atas, dan apakah biaya akuisisi pengguna masuk akal jika dibandingkan dengan lifetime value (LTV) mereka. Perhitungan ini akan membedakan antara kesuksesan sementara dengan yang sebenarnya.

Yang pasti adalah, ide-ide dari Cina akan terus membanjiri pasar teknologi Asia Tenggara untuk beberapa tahun ke depan.

Banyak dari mereka akan berhasil, baik yang berkantor di gedung-gedung pencakar langit Singapura maupun yang berlokasi di kota kecil Indonesia.

Lazada

Sumber foto: Lazada

Perusahaan yang sejak awal yakin akan tren ini adalah Alibaba, yang membeli Lazada pada tahun 2016 dan secara perlahan tapi pasti mengerahkan pengaruhnya di perusahaan tersebut. Usaha mereka mencapai puncaknya ketika CEO Lazada mengundurkan diri dan diganti dengan letnannya Jack Ma.

Meski sejumlah pengamat menyakini bahwa faktor perbedaan lingkungan dan selera pasar di Asia Tenggara akan menjadi penyebab kawasan ini tidak perlu berevolusi dengan cara yang sama seperti Cina, namun asumsi ini sepertinya tidak berlaku.

Ternyata ide-ide dari Cina telah siap diekspor dan cenderung populer di negara-negara lain.

Contohnya adalah platform berbagi sepeda. Mobike, Ofo, oBike sempat meledak di pasaran dan diadopsi dengan cepat oleh konsumen. Namun kali ini, tren tersebut tidak bertahan lama.

OBike ambruk dan pemerintah ikut masuk ke ranah ini dengan membuat regulasi. Kondisi ini membuat biaya untuk menjalankan bisnis berbagi sepeda menjadi mahal.

Selain itu, terdapat keraguan yang cukup besar tentang keberlanjutan model bisnis ini. Dibutuhkannya pendanaan yang besar dan kompleksitas operasional untuk menjaga dan memelihara armada sepeda.

Ketepatan waktu adalah segalanya

Kebangkitan dan kejatuhan bisnis berbagi sepeda memberikan beberapa pelajaran. Tapi yang lebih penting, jika kamu membangun startup di Asia Tenggara dan mencoba mengikuti ide dari pihak lain, waktu adalah segalanya.

Jika kamu melakukannya dengan benar, kamu akan mencari target akuisisi menarik seperti Lazada. Sebaliknya, jika kamu melakukan kesalahan kamu akan tenggelam seperti oBike.

Para founder oBike yang berasal dari Cina meluncurkan perusahaan ini pada tahun 2017 di Singapura—terlambat beberapa tahun. Tak lama kemudian, para penggagas konsep aslinya yang juga berasal dari Cina, Ofo dan Mobike, juga turut membuka bisnis di negara tersebut. Mereka hadir dengan modal yang sangat besar.

Perang subsidi terjadi di antara ketiganya. Mereka menawarkan penggunaan sepeda secara gratis. Bahkan investasi dari layanan transportasi online seperti Grab tidak dapat menyelamatkan oBike, yang akhirnya secara resmi menutup layanan di Singapura.

oBike

Sumber foto: oBike

Keruntuhan OBike menandakan dimulainya fase baru di kancah startup Asia Tenggara. Jika kamu berpikir untuk menjiplak ide dari Cina, kamu mungkin sudah terlambat.

Para warga Cina dapat menjiplak ide mereka sendiri dengan lebih baik daripada kamu, dan mereka pasti bisa mengalahkan kamu.

Jika kamu seorang pengusaha di Asia Tenggara, masih ada banyak harapan. Jika kamu menjalankan bisnis retail online, kehadiran Alibaba mungkin adalah kabar baik bagimu.

Namun, jika kamu masih berada di persimpangan, kamu harus tetap mempelajari dan meneliti adegan startup di Cina. Bukan hanya untuk menemukan ide-ide baru, tapi juga untuk menghindari ide-ide yang terlalu sering digunakan.

Tidak semuanya jadi malapetaka

Startup lokal akan terus menunjukkan keberhasilan di Asia Tenggara, tapi mereka akan menjadi “bintang” yang sama sekali berbeda.

Lupakan konsep melayani konsumen akhir. Gelombang unicorn selanjutnya kemungkinan akan menyasar kalangan bisnis dan andal dalam menelusuri sistem birokrasi yang kompleks. Koneksi pada orang-orang kuat dan kaya akan jadi penting. Selain itu, para founder lokal dengan koneksi yang tepat juga akan terus mengalami kemajuan.

Selama perusahaan asal Cina belum merambah bidang tersebut, kamu masih punya kesempatan. 

Jika startup kamu menjalankan bisnis yang cukup besar di Cina, kamu masih punya kesempatan. Apabila ide startup kamu mempunyai hak kekayaan intelektual yang sulit untuk dijiplak atau punya keuntungan yang unik yang sulit untuk direplikasi, kamu juga masih punya kesempatan.

Pendekatan yang diambil Singapura dalam bidang startup bisa menjadi contoh yang baik. Alih-alih menyalurkan uang pemerintah ke startup yang idenya dapat dengan mudah ditiru, sekarang mereka mendukung perusahaan “deep tech” melalui insiatif seperti SG Innovate.

Pergeseran ini baru saja dimulai, namun sudah mulai menghasilkan sejumlah perusahaan tahap awal yang lebih beragam. Hanya waktu yang dapat menunjukkan yang mana yang akan berhasil.

Bagi para founder, waktu terus berjalan. Tak lama lagi—kalau tidak ada bencana ekonomi di Cina—hampir semua industri akan memiliki pemain besar dari Cina.

Berikut ramalan tentang apa yang akan terjadi: setidaknya akan ada satu perusahaan Cina yang bekerja dengan baik di lingkup industri software. HiLife, platform manajemen real estat yang didirikan oleh developer properti Cina, telah menembus seperempat kondominium Singapura.

Sebenarnya hal ini tidak mengejutkan. Peningkatan pengaruh Cina pada ranah teknologi Asia Tenggara hanyalah tanda lain dari Cina yang lebih kuat.

Mereka yang sadar akan perkembangan di Cina akan memprediksi hasil ini. Sementara itu, bagi para pengusaha di Asia Tenggara, kunci untuk bertahan hidup adalah dengan menunggangi tren, bukan tenggelam karenanya.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan; sumber gambar: Vulcan Post)

This post Perkembangan Industri Teknologi Asia Tenggara Kian Mengarah ke Cina appeared first on Tech in Asia.

The post Perkembangan Industri Teknologi Asia Tenggara Kian Mengarah ke Cina appeared first on Tech in Asia Indonesia.

Source: Inspirasi


Source: entrepreneur